9 January 2014

Profil Buya Hamka: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Profil Buya Hamka: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Profil Buya Hamka, dengan film dan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
Buya Hamka
Saat ini banyak orang membicarakan Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang diambil dari Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya sastra Buya Hamka, Beliau sosok cendekiawan Muslim Indonesia yang paling berpengaruh dalam dunia sastra, agama dan filsafat Islam. Ulama terkenal dari era awal abad ke-20 ini memang memiliki pengaruh yang luas dalam bidang sastra dan keagamaan, terutama filsafat, tafsir dan sejarah agama Islam. Buya Hamka jelas lebih dari sekedar ulama yang hanya berkutat dengan urusan formalitas agama Islam semata.

Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah juga merupakan aktifis agama dan perjuangan melawan penjajahan, kemiskinan dan masalah sosial, yang membuktikan bahwa ia adalah salah satu tokoh agama yang berpikiran progresif.

Putra Minang yang Saleh dan Berjiwa Seni

Buya Hamka telah menunjukkan kecenderungan relijius dan cinta sastra sejak kecil. Lahir pada tanggal 17 Februari 1908 di Minangkabau, Hamka adalah putra dari pasangan ulama progresif Abdul Karim Amrullah, serta ibu yang berasal dari keluarga seniman, Siti Shafiyah. Sejak kecil, Hamka sudah dihadapkan pada latar belakang yang kaya, yang kelak akan membentuk karakter, jiwa serta bidang yang digelutinya.

Sejak usia 6 tahun, Hamka telah memelajari Al-Qur’an serta silek (silat), dua macam ilmu yang secara tradisi memang wajib dikuasai anak-anak lelaki di Minangkabau. Akan tetapi, di luar kedua ilmu ‘wajib’ tersebut, Hamka juga senang mendengarkan serta mempelajari Kaba, yaitu suatu seni tutur tradisional Minangkabau yang biasanya disampaikan dengan iringan musik.

Kegiatan inilah yang kelak akan membentuk kecintaan Buya Hamka pada sastra, serta kecenderungannya untuk memasukkan unsur-unsur sastra dan seni tutur Minangkabau seperti macam-macam peribahasa, ungkapan khas Minang hingga gaya bertutur yang bersajak dan penuh rima. Sayangnya, minatnya akan sastra tidak didukung oleh sang ayah, yang lebih mengharapkan sang Hamka muda untuk fokus dalam ilmu agama.

Hijrah ke Pulau Jawa

Buya Hamka, yang senang berkeliling ke berbagai tempat sejak kecil, akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Jawa pada usia 16 tahun, setelah mendengar bahwa Pulau Jawa memiliki cara yang lebih progresif dalam mengamalkan ajaran Islam. Ketika tiba di Yogyakarta, Hamka menemukan bahwa agama Islam diterapkan dalam konsep yang berbeda; jika para ulama di Minangkabau berusaha mengembalikan Islam ke bentuk murninya, ulama di Jawa menerapkan ajaran Islam dengan cara yang lebih progresif.

Islam di Jawa diterapkan sebagai sarana untuk mengentaskan masalah sosial seperti kemiskinan dan buta huruf, meningkatkan taraf hidup rakyat kecil, serta dalam masalah kemanusiaan yang terkait dengan penjajahan. Buya Hamka pun segera tertarik dengan atmosfer baru ini dan mulai bergabung dengan Muhammadiyah serta Serikat Islam, bergaul dengan orang-orang seperti H. Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto.

Buya Hamka kemudian menjadi koresponden bagi beberapa media Islam, melakukan ceramah, serta menciptakan banyak karya di bidang agama dan sastra. Ia menulis Tasawuf Modern, Revolusi Agama, Keadilan Sosial dalam Islam dan Muhammadiyah di Minangkabau, tetapi ia juga menulis karya-karya sastra seperti Tuan Direktur, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Melihat riwayat hidupnya, bisa dibilang bahwa Buya Hamka adalah seorang ulama yang bukan hanya cerdas, namun juga berpikiran progresif. Hamka adalah salah satu contoh sempurna perpaduan antara penerapan ilmu agama dalam ranah praktis, dan membuatnya menjadi salah satu pengaruh dalam pemikiran Islam modern. Hal ini tentu sangat penting bagi generasi mendatang agar memiliki pemikiran progresif dalam menerapkan prinsip-prinsip agama.

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk 

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk tahun 1930 an ini bercerita tentang perbedaan latar belakang sosial dimana hubungan cinta sepasang kekasih berakhir tragis yaitu kematian, dijadikan film oleh Ram Soraya di Soraya Intercine Films, dengan pemain Pevita Pearce, Hejunot Ali, Reza Rahadian, dan Randy Danistha.
Film - Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Trailer 2 HD
 

Kita Renungkan dan Action dengan Ikhtiar, dan doa

Petuah Buya Hamka, action dengan ikhtiar dan doa
Petuah Buya Hamka poster dari http://tangisanmelayu.blogspot.com/2013/10/suatu-hari-dengan-daud-beureueh-sang.html

9 komentar

9 January 2014 at 09:04

itu belum tayang kan di bioskop kan???

9 January 2014 at 09:33

istrinya buya hamka orang mana ya oom :))

9 January 2014 at 11:30

@NindaIsteri pertama Buya Hamka adalah Siti Raham Binti Endah Sutan orang Minangkabau, setelah isteri pertama meninggal dunia, beliau menikah dengan Hajjah Siti Khadijah dari Cirebon.

9 January 2014 at 11:37

@Dwi AlfinaSudah, Tayangan perdana Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk di bioskop tanggal 19-12-2013 di jaringan Cinema21, penonton selalu penuh dan rata-rata puas menyaksikannya!

9 January 2014 at 12:48

dari trailer filem ini amat menarik dan saya kira kisah benar ya...

9 January 2014 at 13:49

Salam kang. Saya pernah direkomendasikan untuk membaca novelnya, eh sampe sekarang belum baca. filmnya juga .. hiks ...

9 January 2014 at 16:23

@DenaihatiHanya salah satu karya sastra dari Buya Hamka yang berupa novel, kemungkinan ada juga yang mengalaminya!

9 January 2014 at 16:25

@Fahrizal MukhdarNovel pertama yang kubaca adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang mengharukan, sejak itu saya hobi baca novel!

13 January 2014 at 12:25

ini nih yang ane cari, makasih ya bang infonya :D

Post a Comment

Terima Kasih atas kunjungan Anda!
Kami harapkan komentar Anda berkaitan dengan artikel, dan Komentar Anda akan kami hapus, bila:
- Menyisipkan Link Aktif di Komentar
- Link User Name Anda mengarah ke Blog Iklan
- Link User Name Anda menawarkan Aborsi, Judi, Obat Bius, Alat Bantu Sex, Foto / Gambar / Animasi Versi Pornografi.

Mohon maaf, kami pakai comment moderation!