25 July 2014

Merayakan 'Iedul Fitri berdasarkan Sunnah

Merayakan 'Iedul Fitri berdasarkan Sunnah
Merayakan 'Iedul Fitri berdasarkan Sunnah, mari kita rayakan 'Iedul Fitri sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sababat beliau. 

Baca sampai tuntas biar kita semua tidak salah arah dalam merayakan 'Iedul Fitri. Kita lakukan sesuai tuntunannya!

  • Mandi.
    Dari ‘Ali bin Abi Thalib, “Seseorang pernah bertanya pada ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arofah, hari Iedul Adha dan Iedul Fithri.” (HR. Al Baihaqi 3/278)
  • Makan.
    Buraidah RodhiyAllahu’anhu: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari 'Iedul Fitri sebelum makan, dan tidak makan pada hari Iedul Adha hingga beliau menyembelih qurban.”(HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
    Anas RodhiyAllahu’anhu: "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak keluar rumah pada hari raya ‘Iedul Fitri hingga makan beberapa kurma.” (HR. Bukhari).
    Ibnu Muhallab: "hikmah makan sebelum shalat adalah agar jangan ada yang mengira bahwa harus tetap puasa hingga shalat 'Iedul Fitri."
  • Jalan berangkat dan pulang berbeda menuju tempat shalat 'Iedul Fitri
    Jabir RodhiyAllahu’anhu: “Adalah Rasulullah Saw ketika di hari ‘Ied berbeda jalan (ketika berangkat dan pulang).”(HR. Bukhari)
    Ibnu Umar RodhiyAllahu’anhu: “Rasulullah Saw biasa keluar menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki.(HR. Ibnu Majah)
  • Hukum shalat 'Iedul Fitri adalah fardhu ‘ain.
    Hukum shalat 'Iedul Fitri adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang, karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengerjakan shalat 'Iedul Fitri. Shalat 'Iedul Fitri menggugurkan shalat Jum’at, jika 'Iedul Fitri jatuh pada hari Jum’at. Sesuatu yang wajib hanya bisa digugurkan oleh kewajiban yang lain (At Ta’liqat Ar Radhiyah, syaikh Al Albani, 1/380).
  • Wanita Haid dan Jilbab
    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 324) dan Muslim (no. 890) dari Ummu Athiyah Radhiallahu ‘Anha; beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk keluar pada hari 'Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha, baik ‘awatiq (wanita yang baru baligh), wanita haid, maupun gadis yang dipingit. Adapun wanita haid, mereka memisahkan diri dari tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’ Beliau menanggapi, ‘Hendaklah saudarinya (maksudnya: sesama muslimah, pent.) meminjamkan jilbab kepadanya.
  • Waktu Shalat 'Iedul Fitri.
    Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi: "Waktu shalat 'Iedul Fitri dan 'Iedul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, shalat 'Iedul Adha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan shalat 'Iedul Fitri diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat Fithri mereka" [Minhajul Muslim 278].
  • Shalat ‘Iedul Fitri di Lapangan.
    Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di hari raya 'Iedul Fitri dan 'Iedul Adha menuju lapangan. Maka sesuatu yang paling pertama kali beliau mulai adalah shalat 'Iedul Fitri, kemudian beliau berbalik dan berdiri menghadap manusia, sedangkan manusia duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau pun memberikan nasihat dan wasiat kepada mereka, serta memberikan perintah kepada mereka. Jika beliau ingin mengirim suatu utusan, maka beliau putuskan (tetapkan), atau jika beliau memerintahkan sesuatu, maka beliau akan memerintahkannya. Lalu beliau pun pulang”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(913) dan Mulim dalam Shohih-nya (889)]
    Ibnu umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pagi-pagi menuju lapangan di hari 'Iedul Fitri, sedangkan tombak kecil di depan beliau. Jika telah tiba di lapangan, maka tombak kecil itu ditancapkan di depan beliau. Lalu beliau pun shalat menghadap tombak tersebut. Demikianlah, karena lapangan itu adalah padang, di dalamnya tak ada sesuatu yang bisa dijadikan “sutroh” (pembatas di depan imam)” [HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (930), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1304)].
    Abdur Rahman bin Abis berkata, “Aku pernah mendengarkan Ibnu Abbas sedang ditanya, apakah engkau pernah menghadiri shalat ied bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ibnu Abbas menjawab, ya pernah. Andaikan aku tidak kecil, maka aku tidak akan menyaksikannya, sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tanda (yang terdapat di lapangan), di dekat rumah Katsir Ibnu Ash-Shalt. Kemudian beliau shalat dan berkhutbah serta mendatangi para wanita sedang beliau bersama Bilal. Maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati mereka, mengingatkan, dan memerintahkan mereka untuk bersedaqah. Lalu aku pun melihat mereka mengulurkan (sedeqah) dengan tangan mereka sambil melemparkannya ke baju Bilal. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Bilal berangkat menuju ke rumahnya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(934)].
  • Waktu Takbir.
    Allah berfirman, yang artinya: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185).
    Ibnu Umar, beliau bertakbir ketika hari Ied sampai tiba di tempat shalat Ied dan beliau terus bertakbir sampai imam shalat Ied datang” [Riwayat Faryabi dalam Ahkam Iedain no 46-48].
    Takbir dimulai sejak matahari terbenam pada malam 'Iedul Fitri, apabila bulan (Syawal) sudah diketahui sebelum magrib, misalnya ketika Ramadan sempurnakan tiga puluh hari, atau telah ditetapkan rukyah hilal syawal. Takbir diakhiri dengan pelaksanaan shalat 'Iedul Fitri. Yakni ketika orang-orang mulai shalat 'Iedul Fitri, maka selesailah waktu takbir." (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/269-272)
  • Ucapan Takbir.
    Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:
    اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
    "Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah Walahu Akbar Allahu Akbar Walilahi Hamd"
    “ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan hanya bagi Allahlah segala pujian.”
    Beliau mengucapkan takbir ini di mesjid, di rumah dan di jalan-jalan.
    (HR. Mushanaf Abi Syaibah)
    Takbir dengan_Allahu Akbar tiga kali diriwayatkan oleh Yazid bin Zinad dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Seperti yang dilakukan di Indonesia tiga kali karena Imam Malik dan Imam Syafi’i memakainya.
  • Ucapan Selamat Hari Raya ‘Iedul Fitri.
    Jubair bin Nufair; beliau mengatakan, “Dahulu, para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila saling bertemu pada hari raya, saling mengucapkan:
    تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
    “Taqabbalallahu minna wa minkum”
    “Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”
    (Sanadnya hasan; Fathul Bari, 2:446)
Semoga kita dapat merayakan Hari Raya ‘Iedul Fitri dengan benar, apabila tulisan ini ada yang kurang atau salah mohon koreksinya.

3 komentar

26 July 2014 at 00:04

thanks infonya :)

4 August 2014 at 15:43

kunjungan perdana,, salam kenal,,
thanks untuk infonya.. :)

12 December 2014 at 11:36

semoga bisa melaksanakan sunnah bersama dengan keluarga :)

Post a Comment

Terima Kasih atas kunjungan Anda!
Kami harapkan komentar Anda berkaitan dengan artikel, dan Komentar Anda akan kami hapus, bila:
- Menyisipkan Link Aktif di Komentar
- Link User Name Anda mengarah ke Blog Iklan
- Link User Name Anda menawarkan Aborsi, Judi, Obat Bius, Alat Bantu Sex, Foto / Gambar / Animasi Versi Pornografi.

Mohon maaf, kami pakai comment moderation!