Search This Blog

24 August 2018

Shalawat Pendek Shallallahu ‘ala Muhammad



بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

Ayo bershalawat:


”Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Muhammad”



Mari kita perbanyak shalawat, shalawat itu wajib hukumnya di baca dalam shalat, dan banyak manfaat kalau kita baca shalawat di luar shalat, mari kita shalawat dengan benar sesuai Al Qur'an dan Hadis. Karena banyak shalawat panjang dan shalawat pendek, pilihan saya shalawat yang ada di bagian doa tahiyat akhir shalat dan shalawat pendek Shallallahu ‘ala Muhammad berdasarkan:


Firman Allah di Al-Qur'an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” 
[Al-Ahzaab: 56]


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
[HR. Al-Baihaqi (III/249) dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sanad hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1407) oleh Syaikh al-Albani rahimahullah]


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.
[HR Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah].


Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 40 manfaat dari mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Diantaranya :

1. Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah.
2. Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat tersebut.
4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafa’at dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika ketika mengucapkan shalawat diiringi dengan permohonan kepada Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Kiamat.
5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.
6. Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.
[‘Aqiidatut Tauhiid (hal 158-159)].


Lafazh shalawat ada di dalam shalat, yaitu shalawat Ibrahimiyah yang dibaca dalam doa tahiyat akhir shalat

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، 
اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Tterpuji lagi Maha Mulia.”
[HR. Al-Bukhari (no. 3370/Fat-hul Baari (VI/408)), Muslim (no. 406)]


Shalawat yang disyari’atkan, biasa diucapkan dan ditulis oleh Salafush Shalih.

Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al ‘Abbad hafizhahullah berkata, ”Salafush Shalih, termasuk para ahli hadits, telah biasa menyebut shalawat dan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut (nama) beliau, dengan dua bentuk yang ringkas, yaitu:

صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ 
(shalallahu ‘alaihi wa sallam)
dan

عَلَيْهِ الصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ 
(‘alaihish shalaatu was salaam).

[Fadh-lush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al ‘Abbad]


أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم عليّ صلاة
Sebaik-baik manusia padaku di hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat.
[HR Tirmidzi]


البخيل من ذُكرتُ عندَه ثم لم يصلّ عليّ
Orang yang pelit adalah orang yang tidak mengucapkan shalawat saat namaku disebut
[HR Ahmad bin Hanbal dalam Musnad]



Shalawat Pendek Shallallahu ‘ala Muhammad

As-Sakhawi dari Majd al-Din al-Fairuz Abadi, dengan menyandarkan sanad kepada Imam as-Samarqandi. Ia berkata: “Saya mendengar Qidhr dan Nabi Ilyas as berkata: Kami mendengar Rasulullah saw bersabda: Tidak seorang pun yang membaca: Shallallahu ‘ala Muhammad (Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada Muhammad), kecuali bahwa manusia akan mencintainya walaupun sebenarnya mereka membencinya. Demi Allah, mereka tidak akan mencintainya kecuali setelah Allah’azza wa jalla mencintai dia.” Dan kami pernah mendengar Rasulullah bersabda dari atas mimbar: ” Barang siapa membaca shalawat ini maka ia telah membuka tujuhpuluh pintu rahmat untuk dirinya.”

Al-Hafidz as-Sakhawi juga menukil sebuah hadis dengan sanad tersebut bahwa Imam as-Samarqandi mendengar Qidhr dan nabi Ilyas as berkata: “Adalah pada bani Israil seorang nabi yang bernama Samuel. Dia dikaruniai kekuatan untuk mengalahkan musuh. Pada suatu hari ia pergi berangkat untuk menghancurkan musuh agamanya. Mereka (musuh-musuhnya) berkata: “Orang ini adalah seorang penyihir; ia datang untuk mengelabui mata kita dan menceraiberaikan pasukan kita, maka hendaklah kita mengajaknya ke tepi pantai, lalu kita menghancurkannya.” Maka berangkatlah ia bersama empat puluh orang pasukan memenuhi tantangan mereka untuk bertempur di tepi pantai. Teman-temannya berkata: ” Apayang akan kita perbuat?” “Majulah, dan bacalah: Shallallahu ‘ala Muhammad!” kata Samuel. Mereka pun menuruti nasehat- nya; maju dengan membaca shalawat. Keadaan menjadi berbalik sama-sekali; merekalah yang terdesak ke laut dan tenggelam ditelan ombak, semuanya tewas, tidak ada yang tersisa.”

As-Sakhawi juga meriwayatkan bahwa suatu hari, seorang penduduk negeri Syam datang menghadap Rasulullah S.A.W seraya berkata, "Ya Rasulullah, ayah saya sudah sangat tua, namun beliau ingin sekali melihat Anda.", Rasulullah S.A.W menjawab, "Bawa dia kemari!", Orang itu berkata, "la buta, tidak bisa melihat.", Rasulullah lalu bersabda, "Katakanlah kepadanya supaya ia mengucapkan Shallallahu 'Ala Muhammadin selama tujuh minggu setiap malam. Semoga ia akan melihatku dalam mimpi dan dapat meriwayatkan hadist dariku.". Anjuran Rasulullah itu dituruti oleh orang tersebut. Benar saja, ia pun kemudian melihat Nabi S.A.W dalam tidurnya, dan hadist ini diriwayatkan olehnya.
[kitab Al Mushtathraf fi Kulli Fannil Mustazraf]

Ayo perbanyak shalawat.

Silahkan tambahkan tentang shalawat di kolom komentar bila anda ingin menambahkannya, trims.

18 August 2018

Ayat ayat Penyembuh (Syifa') di dalam Al-Qur’an

Ayat ayat Penyembuh (Syifa') di dalam Al-Qur’an

Imam Abu Qasim Qushairi ra. berkata: 
seorang di antara anakku jatuh sakit sehingga dia hampir meninggal. 
Di waktu itu aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w. 
Baginda bersabda: 
Mengapa kamu tidak ambil manfaat dari ayat-ayat syifa’? Mengapa kamu tidak mengamalkan ayat-ayat itu dan memohon (kepada Allah s.w.t.) untuk disembuhkan?

Inilah 6 ayat ayat penyembuh, yang dimaksud:


[ Al-Taubah 9:14 ]

وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ

Wa yashfi suduura qaumim-mu’minin
dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman


[ Yunus 10:57 ]

وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ

Wa syifaa’ul limaa fis sudur
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada


[ An-Nahl 16:69 ]

يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ 

Yakhruju mimbutuu nihaa syaraabun mukhtalifun alwaanuhu fiihi syifaa’ullin-naas
Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia
 

[ Al-Israa’ 17:82 ]

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Wa nunazzilu minal Qur’aan, maa hua syifaa un warahmatun lil mukminiin
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman


[ Asy-Syu’araa’ 26:80 ]

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Faizaa maridhtu fa huwa yashfiini
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku


[ Fusilat 41:44 ]

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Qul huwal-laziina aamanu hudan-wa-syifaa’
Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin

=== * ===

17 August 2018

Free Crypto Cloud Mining Status Paying

Bagi para pemburu free crypto cloud mining status paying :



1. Cryptominingfarm, free start mining 50 Ghs.

Registration: https://goo.gl/ke2xkD atau klk banner:

FREE CRYPTO CLOUD MINING STATUS PAYING


2. Eobot, Free crypto mining, free faucet, free exchange, free multi coin tinggal pilih mana yang diinginkan:

Registration: https://goo.gl/B8zuaX atau klik banner:

FREE CRYPTO CLOUD MINING STATUS PAYING

27 December 2014

Sudahkah kita memberi

Jangan tanya pada temanmu APA YANG DAPAT DIBERIKAN untukmu, tetapi tanya kepada dirimu sendiri, APA YANG DAPAT DIBERIKAN untuknya.

18 December 2014

Kesuksesan

KESUKSESAN orang lain sering membuat kita iri hati 
tetapi tidak iri soal JERIH PAYAH

28 July 2014

Ucapan Selamat Idul Fitri


Kami sebagai admin Blog Nuansa Pena,


mengucapkan:

Selamat Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin





 اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ
لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ
وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ
وَلِلَّهِ الْحَمْدُ


تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Taqabbalallahu minna wa minkum”
“Semoga Allah menerima amal kita.”
Aamiin!

(Edi – Nuansa Pena)

25 July 2014

Merayakan 'Iedul Fitri berdasarkan Sunnah

Merayakan 'Iedul Fitri berdasarkan Sunnah
Merayakan 'Iedul Fitri berdasarkan Sunnah, mari kita rayakan 'Iedul Fitri sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sababat beliau. 

Baca sampai tuntas biar kita semua tidak salah arah dalam merayakan 'Iedul Fitri. Kita lakukan sesuai tuntunannya!

  • Mandi.
    Dari ‘Ali bin Abi Thalib, “Seseorang pernah bertanya pada ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arofah, hari Iedul Adha dan Iedul Fithri.” (HR. Al Baihaqi 3/278)
  • Makan.
    Buraidah RodhiyAllahu’anhu: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari 'Iedul Fitri sebelum makan, dan tidak makan pada hari Iedul Adha hingga beliau menyembelih qurban.”(HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
    Anas RodhiyAllahu’anhu: "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak keluar rumah pada hari raya ‘Iedul Fitri hingga makan beberapa kurma.” (HR. Bukhari).
    Ibnu Muhallab: "hikmah makan sebelum shalat adalah agar jangan ada yang mengira bahwa harus tetap puasa hingga shalat 'Iedul Fitri."
  • Jalan berangkat dan pulang berbeda menuju tempat shalat 'Iedul Fitri
    Jabir RodhiyAllahu’anhu: “Adalah Rasulullah Saw ketika di hari ‘Ied berbeda jalan (ketika berangkat dan pulang).”(HR. Bukhari)
    Ibnu Umar RodhiyAllahu’anhu: “Rasulullah Saw biasa keluar menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki.(HR. Ibnu Majah)
  • Hukum shalat 'Iedul Fitri adalah fardhu ‘ain.
    Hukum shalat 'Iedul Fitri adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang, karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengerjakan shalat 'Iedul Fitri. Shalat 'Iedul Fitri menggugurkan shalat Jum’at, jika 'Iedul Fitri jatuh pada hari Jum’at. Sesuatu yang wajib hanya bisa digugurkan oleh kewajiban yang lain (At Ta’liqat Ar Radhiyah, syaikh Al Albani, 1/380).
  • Wanita Haid dan Jilbab
    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 324) dan Muslim (no. 890) dari Ummu Athiyah Radhiallahu ‘Anha; beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk keluar pada hari 'Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha, baik ‘awatiq (wanita yang baru baligh), wanita haid, maupun gadis yang dipingit. Adapun wanita haid, mereka memisahkan diri dari tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’ Beliau menanggapi, ‘Hendaklah saudarinya (maksudnya: sesama muslimah, pent.) meminjamkan jilbab kepadanya.
  • Waktu Shalat 'Iedul Fitri.
    Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi: "Waktu shalat 'Iedul Fitri dan 'Iedul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, shalat 'Iedul Adha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan shalat 'Iedul Fitri diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat Fithri mereka" [Minhajul Muslim 278].
  • Shalat ‘Iedul Fitri di Lapangan.
    Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di hari raya 'Iedul Fitri dan 'Iedul Adha menuju lapangan. Maka sesuatu yang paling pertama kali beliau mulai adalah shalat 'Iedul Fitri, kemudian beliau berbalik dan berdiri menghadap manusia, sedangkan manusia duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau pun memberikan nasihat dan wasiat kepada mereka, serta memberikan perintah kepada mereka. Jika beliau ingin mengirim suatu utusan, maka beliau putuskan (tetapkan), atau jika beliau memerintahkan sesuatu, maka beliau akan memerintahkannya. Lalu beliau pun pulang”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(913) dan Mulim dalam Shohih-nya (889)]
    Ibnu umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pagi-pagi menuju lapangan di hari 'Iedul Fitri, sedangkan tombak kecil di depan beliau. Jika telah tiba di lapangan, maka tombak kecil itu ditancapkan di depan beliau. Lalu beliau pun shalat menghadap tombak tersebut. Demikianlah, karena lapangan itu adalah padang, di dalamnya tak ada sesuatu yang bisa dijadikan “sutroh” (pembatas di depan imam)” [HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (930), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1304)].
    Abdur Rahman bin Abis berkata, “Aku pernah mendengarkan Ibnu Abbas sedang ditanya, apakah engkau pernah menghadiri shalat ied bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ibnu Abbas menjawab, ya pernah. Andaikan aku tidak kecil, maka aku tidak akan menyaksikannya, sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tanda (yang terdapat di lapangan), di dekat rumah Katsir Ibnu Ash-Shalt. Kemudian beliau shalat dan berkhutbah serta mendatangi para wanita sedang beliau bersama Bilal. Maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati mereka, mengingatkan, dan memerintahkan mereka untuk bersedaqah. Lalu aku pun melihat mereka mengulurkan (sedeqah) dengan tangan mereka sambil melemparkannya ke baju Bilal. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Bilal berangkat menuju ke rumahnya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(934)].
  • Waktu Takbir.
    Allah berfirman, yang artinya: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185).
    Ibnu Umar, beliau bertakbir ketika hari Ied sampai tiba di tempat shalat Ied dan beliau terus bertakbir sampai imam shalat Ied datang” [Riwayat Faryabi dalam Ahkam Iedain no 46-48].
    Takbir dimulai sejak matahari terbenam pada malam 'Iedul Fitri, apabila bulan (Syawal) sudah diketahui sebelum magrib, misalnya ketika Ramadan sempurnakan tiga puluh hari, atau telah ditetapkan rukyah hilal syawal. Takbir diakhiri dengan pelaksanaan shalat 'Iedul Fitri. Yakni ketika orang-orang mulai shalat 'Iedul Fitri, maka selesailah waktu takbir." (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/269-272)
  • Ucapan Takbir.
    Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:
    اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
    "Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah Walahu Akbar Allahu Akbar Walilahi Hamd"
    “ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan hanya bagi Allahlah segala pujian.”
    Beliau mengucapkan takbir ini di mesjid, di rumah dan di jalan-jalan.
    (HR. Mushanaf Abi Syaibah)
    Takbir dengan_Allahu Akbar tiga kali diriwayatkan oleh Yazid bin Zinad dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Seperti yang dilakukan di Indonesia tiga kali karena Imam Malik dan Imam Syafi’i memakainya.
  • Ucapan Selamat Hari Raya ‘Iedul Fitri.
    Jubair bin Nufair; beliau mengatakan, “Dahulu, para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila saling bertemu pada hari raya, saling mengucapkan:
    تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
    “Taqabbalallahu minna wa minkum”
    “Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”
    (Sanadnya hasan; Fathul Bari, 2:446)
Semoga kita dapat merayakan Hari Raya ‘Iedul Fitri dengan benar, apabila tulisan ini ada yang kurang atau salah mohon koreksinya.